Sabtu, 21 Januari 2012

Chapter II

BAB 2

FEEL...

Masa ini adalah masa yang aneh, aku merasa ada hal lain yang aku rasakan entah apa itu namun sangat berbeda sekali. Aku mengalami semua itu pada saat aku menginjak SMA atau berseragam putih abu-abu, disana dan ditempat itu aku menemukan fantasi lain. Ini bukan fantasi berkonotasi negatif atau sesuatu yang jelek tapi memang aku merasakan aku menjadi berbeda, lebih menikmati hari dan waktuku, mengisisnya dengan hal-hal yang menyenangkan menurutku dan tak merugikan aku dan orang lain. Namun aku masi bingung dengan apa yang aku rasakan, semua seperti berbeda dan aneh. Mungkin aku harus bertanya pada nenek atau ibuku tentang ini dan aku menunggu waktu yang tepat untuk mempertanyakan apa yang kualami ini.
Hari itu aku terduduk dibawah susunan besi berbentuk kotak yang cukup tinggi dan tertempel papan yang mempunyai moncong lingkaran besi, ya itulah kesibukan ku saat SMA, bermain dengan benda itu bersama bola berpori-pori berwarna orange yang aku miliki. Ditempat itu aku berfikir dan berkeputusan untuk mempertanyakan apa yang kualami ini kepada mereka. Sampailah aku dirumah namun tak ada satupun orang dirumah, tiba-tiba muncul bibik ku, bibikku adalah seorang pembantu yang sudah kuanggap seperti keluarga, ia berumur 55 tahunan, bertempat tinggal didesa yang sangat nyaman dan mempunyai anak dan cucu. Ia menghampiriku tanpa menatapku langsung menyuruhku untuk menaruh semua barangku dan mandi, aku mengiyakan hal itu. Setelah aku selesai mandi aku menuju dapur dan bertanya kemana perginya seluruh penghuni rumahku, namun iya hanya menjawab “mama ama kakak kamu pergi tahlil, g tau kemana”. Aku heran, tidak biasanya ibu dan kakakku pergi tak memberi tahu kemana mereka pergi, karena ku pikir itu hanya hal sepele aku pun tak terlalu memikirkan hal itu dan langsung menuju meja makan untuk makan. Ditengah aku sedang makan telepon genggamku berbunyi dan disitu tertera nama “mama” dengan segera aku angkat dan aku sangat kaget mendengar ekspresi ibuku saat berkata ditelepon tersebut, aku menanyakan apa sebenarnya yang terjadi dan ibuku yang panik hanya berkata “besok kamu harus ikut ya” lalu ia mengucap salam dan menutup sambungan telepon. Pikiranku kacau, aku salah apa? Ini maksudnya apa? Aku bertanya-tanya dan aku pun bergagasan bahwa ini ada hubungannya dengan tahlil yang ibu dan kakakku kunjungi. Tapi aku tak lagi menghiraukan itu dan mulai memikirkan hal yang ingin kutanyakan kepada ibu dan nenekku. Karena kupikir ibuku tak mungkin untuk diajak bicara aku berinisiatif menelpon nenekku saja, langsung ku telepon nenekku dengan telepon genggamku namun, tidak ada jawaban hingga ke tiga kalinya seseorang mengangkatnya dan berbicara padaku, ternyata itu adalah pamankuyang langsung bercerita tentang sesuatu yang mengganjal dihatiku tadi. Dan aku hanya bisa meneteskan air mataku, nenekku meninggal 7 jam yang lalu dirumah sakit karena penyakit paru-paru yang selama ini ia derita dan tak ia ceritakan kepada kami. Rasanya seperti tak bernyawa, satu-satunya orang yang mengerti diriku kembali harus diambil oleh-Nya dan aku hanya bisa menyesali kepergiannya, karena aku tak ada disampingnya saat terakhir ia menutup mata dan usianya.
Dengan rasa menyesal dan kecewa aku akhirnya harus merelakan kepergian nenekku dan menyimpan sejuta rasa yang kupendam dihati tapi, aku akan tetap semangat seperti kata terakhir dari nenekku “life goes on, you must keep moving forward, grab what you want and make it real but keep on the right” hmmmm... berat namun ia selalu ada dihariku, dipikiranku, dan dihatiku, selalu...

next on chapter & bab 3

0 komentar:

Posting Komentar