Selasa, 17 Januari 2012

Chapter I

BAB 1
PENDAHULUAN


Hidupku boleh dibilang berkecukupan, aku tinggal dirumah yang boleh dibilang bagus begitu kehidupan keluargaku yang harmonis dan sangat luar biasa. Aku adalah anak sulung dari pasangan suami-istri yang berketurunan barat. Ayahku adalah pekerja perencanaan bangunan atau kontraktor sedangkan ibuku adalah sekertaris dari perusahaan kakekku dan waktu mereka selalu habis untuk tugas dari pekerjaan mereka namun, bukan berarti mereka tak perdulu pada aku, mereka selalu menyediakan waktu untuk bersama-sama entah ngobrol atau makan bersama. Akan tetapi lambat laun mereka seakan menghilang dan waktuku lebih banyak kuhabiskan bersama nenekku yang berasal dari ayahku atau ibu dari ayahku. Beliau lah yang mengajarkan banyak cerita tentang hidup dan bagaimana seharusnya saya tumbuh dan hasilnya aku menjadi anak lelaki yang baik dan taat pada agama. Selain nenekku aku juga sering menghabiskan waktu dengan kakakku satu-satunya, seorang wanita yang luar biasa. Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri, panggil saja aku lemper, itu lah panggilanku yang diberikan oleh kakak dan nenekku, karena aku cukup menyukai makanan tersebut walaupun aku awalnya juga tak terima namun aku iyakan saja. Dan hari-hariku kuhabiskan untuk bersekolah dan bermain bersama kakak dan nenekku hingga akhirnya pada saat menginjak umur 8 tahun sesuatu yang aneh terjadi, tiba-tiba suasana rumah menjadi kacau, orang-orang berdatangan dan menciumi keningku sambil berkata “sabar ya nak, kuat kok anak jempol ini” dan airmata turun bak hujan deras yang datang tiba-tiba, aku pun bingung dan hanya bisa bertanya-tanya namun semua berkata “ndak ada apa-apa nak, sabar ya nak” selalu begitu dan hanya itu kalimat yang kudengar hingga aku dijemput oleh pamanku dan dibawa ke sebuah tempat fast food untuk makan dan bermain, namun aku masih curiga dan penasaran dan meminta untuk segera pulang tetapi hasilnya nihil, pamanku selalu mengalihkan perhatianku. Malam pun tiba aku pun pulang dengan pamanku, aneh sekali ternyata dirumah sedang banyak tamu dan banyak orang membaca tahlil, pamanku langsung berkata “ini ada tahlil buat ayah kamu, ayah kamu sekarang lagi kerja di luar negeri, biar selamat makanya diadakan tahlil”. Aku pun hanya bisa percaya saja dan masuk kerumah seperti biasa mengucap salam dan bersalam ke ibu, nenek dan kakakku lalu pergi kekamar mengambil mainan yang biasa aku mainkan. Waktu berlalu cepat dan para tamu pun satu demi satu pulang menuju rumahnya sedangkan aku masih asik bermain dengan mainanku dan akhirnya aku memutuskan keluar dan menghampiri nenek dan kakakku yang terlihat menahan sesuatu hal yang berat untuk diucapkan.
2 tahun berlalu setelah kepergian ayahku bekerja diluar negeri, dan genap 10 tahun usiaku. Pada saat itu aku jujur mulai curiga, ayah tak pernah pulang bahkan tak pernah menelponku, aku pun menyelidiki kebenaran akan cerita itu dan pada akhirnya aku menguping pembicaraan nenek dan ibuku dikamar yang berkata “genap 2 tahun ya buk kepergian dia” nenek menyahut “sabar ya nak, memang sudah takdir suamimu harus diambil dengan cepat” sambil meneteskan air mata. Aku pun yang mendengar itu sontak menendang pintu kamar dan berkata “ayah g pernah kerja diluar negeri kan?! Ayah gak mungkin kembali kan?! Kenapa harus membohongi aku?! Ayah meninggal kan?!” mereka hanya bisa mendekapku tanpa berkata-kata hingga akhirnya mereka menceritakan yang sebenarnya tentang apa yang terjadi pada ayahku, awalnya aku sangat kecewa mengapa harus seperti itu, mengapa mereka merahasiakan itu dariku namun aku pun menerima dan mengikhlaskan kepergiannya karena aku yakin ayahku adalah orang yang baik dan akan mendapat tempat terbaik disisi-Nyadan aku harus tetap bangkit dan semangat untuk menjalani hidupku sama seperti saat aku mempunyainya.

next on bab 2

0 komentar:

Posting Komentar